BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Senin, 19 April 2010

SIMPHONY HANYA UNTUKMU


“k’ Mely..” sapa beberapa anak saat melihatku,
“Hai..” sapaku kepada mereka. Aku berhenti sebentar melambaikan tangan. Mereka menghampiriku dan berkata “ Jangan lupa besok sore ya k”
“Oke..”ucapku sambil melambaikan tangan dan mengaruh sepedaku lagi.
Aku Mely, nama panggilan untuk nama Melody. Aku gadis 18 tahun yang senang dengan musik dan tari. Ayahku seorang polisi dan ibuku adalah pengajar tari. Aku juga memiliki seorang adik laki-laki yang berumur 2 tahun dibawahku Karena hobi menariku, aku jadi mengajar beberapa anak setiap hari sabtu sore. Meskipun aku suka modern dance, tapi aku mengajar tari daerah pada anak-anak di pendopo keraton kasunanan Solo.
Aku mahasiswi semester satu suatu universitas negeri disini. Senang rasanya punya keluarga utuh dan dikelilingi banyak teman. Seperti biasa sabtu sore ini aku mengajar tari di pendopo. Aku mengajar dari jam setengah 4 sampai jam setengah enam sore dan biasanya teman-temanku akan datang menjemput karene kami akan berjalan-jalan ke alun-alun. Setiap malam minggu alun-alun sangat ramai.
Suatu hari ketika aku mengajar tari, aku melihat ada seorang laki-laki yang memegang kamera sambil mondar-mandir didepan kami. Tadinya aku pikir dia turis yang datang berkunjung. Tapi dia terus ada disitu sampai kami . Aku jadi heran, kalau dia turis harusnya dia sudah pulang atau diminta pulang dari tadi oleh penjaga keraton karena jam berkunjung telah habis. Karena aku penasaran , aku menghampiri dan berkata padanya “ Sore mas, sebelumnya maaf tapi setahu saya jam berkunjung untuk turis sudah berakhir satu setengah jam yang lalu. Kok mas masih disini? “
Laki-laki itu langsung tersenyum dan melambaikan tangan “ O..kenalkan saya Darma . Saya mahasiswa dari Jakarta. Saya disini untuk menyelesaikan tugas akhir . Maaf ya kalau udah nggangu”
Setelah menjabat tangan dan mendengar jawabannya, aku tersenyum tapi dalam hati aku masih berpikir. Apa hubungannya tugas akhir dengan mondar-mandir dari tadi ?? .
“Em.m..ndak papa kok, tapi maaf kalau boleh tahu, apa hubungannya tugas akhir dengan mondar-mandir disini ?” . Dia sedikit tertawa dan berkata “maksud saya, saya itu mahasiswa kesenian dan tugas akhir saya mengenai budaya keraton. Makanya saya main ke sini”.
“O..kalau begitu selamat datang di Solo. Mas datang di tempat yang tepat”.Ucapku sambil tersenyum.
“Kamu orang sini kan? Selama disini aku tinggal dirumah pak Lurah. Aku perlu pemandu yang tahu tentang daerah ini”. Katanya.
“Hah? Maksudnya? “
“Aku tahu kamu disini karna Pak Lurah yang bilang, katanya kamu ngajar nari dan udah disini dari kecil jadi beliau bilang kamu bisa jadi pemandu yang baik.”.
“Waduh..em..kebetulan sekarang saya sudah ngak ada acara. Gimana kalau sekarang ke tempat Pak Lurah sekalian Tanya?” sahutku setengah kaget.
“Oke..ayo “ kelihatannya dia semangat sekali.
Sesampainya di tempat Pak Lurah, saya menanyakan yang laki-laki tadi katakan, dan beliau membenarkan jawaban dari laki-laki itu. Beliau meminta saya untuk membantunya selama dia disini karena ternyata dia keponakan Pak lurah sendiri. Setelah membicarakannya beberapa saat, saya bersedia membantu asal Pak Lurah juga meminta ijin dari orangtua saya.Setelah dari rumah Pak Lurah, kami bertiga menuju rumah saya. Disana mereka meminta ijin kepada orangtua saya dan ternyata orangtua saya memperbolehkan hanya pada saat waktu senggang atau hari sabtu sora agar kegiatan saya yang lain juga tidak terganggu.
“Makasih banyak y..oiya boleh minta nomor HP nya? em..biar nanti bisa gampang ngomongin soal waktunya “ ucap laki-laki itu saat berpamitan.
“O..oke” jawabku sambil mengeluarkan handphone. Kemudian kami saling bertukar nomor.
“Oiya..jangan panggil mas ya, panggil kakak aja”
“Oke kak Darma” ucapku sambil tersenyum.
Beberapa hari setelah itu kak Darma meneleponku dan memintaku untuk menunjukkan bagian-bagian lain dari keraton yang ingin dia tahu. Kami sepakat untuk bertemu hari Sabtu siang sebelum aku mengajar, didalam keraton kami berbincang-bincang tentang banyak hal. Dia juga banyak bertanya hal tentang keraton. Karena memang keraton serasa seperti rumahku sendiri aku tidak canggung menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Selama beberapa minggu kami telah mengunjungi beberapa tempat bahkan sampai pasar. Suatu hari kami pergi ke tempat yang biasa digunakan untuk pertunjukkan wayang ataupun kethoprak, disana dia mencoba memainkan gamelan, tapi karena memang tidak bisa jadi ketukannya asal-asalan, bahkan dia memukul gong seolah-oleh itu drum. Lucu sekali kelihatannya.
“Jangan cuma ketawa, ajarin dunk” katanya
Kemudian aku duduk di gamelan lain dan memainkan sedikit nada. Melihat itu ia memintaku untuk mengulang sambil mengajarinya.
“Kamu emang suka music gamelan ya??” tanyanya.
“Suka, tapi bukan berate aku jadul lho..” sahutku.
“Hahaha..iya.iya..Kalau aku cuma bisa memainkan drum, gitar dan piano”
“Piano?” tanyaku sambil terkejut.
“Iya, emang kenapa?”
“Dari dulu aku pengen banget bisa main piano, tapi belum kesampean. Soalnya aku ngak punya piano ,selain itu biaya les piano disini cukup lumanyan.”
“Mau aku ajarin?”
“ Pianonya? “
“Dirumah Pakdhe ada, jadi selesai ngajar nari kamu bisa belajar piano. Ya anggep aja ini buat ngebales rasa terimakasih ku karena kamu bersedia jadi pemanduku selama disini.Gimana?”
“Wuah..mau.mau..bener ya?? Aduh..makasih banyak kak. Tapi ngak ngrepotin kan?” tanyaku.
“Ya engga donk” jawabnya sambil tersenyum.
Senang sekali aku bisa belajar piano, gratis lagi. Kak Darma juga mengajariku dengan sabar. Kami jadi semakin akrab, apalagi aku boleh mengganggapnya seperti kakak sendiri. Apalagi ayah dan ibu juga sudah mengganggapnya seperti anak sendiri. Sampai suatu saat, kak Darma mengatakan kalau urusannya sudah selesai dan seminggu lagi dia akan pulang.
“Melody, makasih banyak ya atas bantuannya. Kakak terbantu sekali. Dan minggu depan kakak udah harus pulang.” Ucapnya sore itu saat kami di Sriwedari.
“O..udah mau pulang ya? “
“Iya, kakak kan disini udah enam bulan, Dan Tugas Akhir kakak juga harus segera diserahkan.”
“Em.m..kalau gitu makasih banyak juga ya kak, udah ngajarin Mely piano.”
“Sama-sama. Oiya, suatu saat kakak pengen liat dan ndengerin permainan piano kamu.”
“Oke, nanti kalau aku ngadain konser tunggal jangan lupa beli tiketnya ya..”
“Ahahahaha.. “ kemudian kami tertawa bersama.
Seminggu kemudian kami dan Pak Lurah sekeluarga mengantar kak Darma ke Bandara. Sebenarnya aku sedih karena kak Darma pergi dan belum tahu kapan kami bisa bertemu lagi. Saat akan berpisah, kak Darma memberiku brosur dan berkata “Ini brosur untuk acara seni antar kampus se-Indonesia. Acaranya 6 bulan lagi. Kakak sangat berharap kita bisa ketemu lagi di acara ini.”
“Caranya? “tanyaku.
“Setiap universitas pasti mengirimkan perwakillannya, Kakak harap bisa mendengarkan permainan piano kamu disini.”
Aku sempat kaget, tapi tidak lama aku segera menjawab “Ya, sampai ketemu disana ya kak.”

Enam bulan kemudian..
“Lagu ini saya mainkan untuk seseorang yang special bagi saya. Enam bulan yang lalu kami berjanji akan bertemu disini.” Suaraku memecah keheningan di panggung sore itu.
Selama duapuluh menit aku memainkan piano. Aku sudah mempersiapkan ini dari enam bulan yang lalu dan aku ingin ini jadi permainan piano pertamaku yang tak terlupakan. Setelah permainanku selesai, panggung hening selama lima detik dan kemudian terdengar keras tepuk tangan penonton. Lalu ada seorang laki-laki yang naik ke atas panggung sambil membawa rangkaian bunga. Ketika melihatnya sekilas seperti tidak asing.
“Selamat ya Mel, permainan pianomu luar biasa” ucapnya sambil memberikan bunga.
“Ya ampun,kak Darma..” aku setengah berteriak sambil menerima bunga darinya.
Ditengah panggung yang ramai itu dia memelukku sambil berkata “Kakak sayang kamu Mel”.



0 komentar: